Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang
At Taubah
20. orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.
23. Hai orang-orang beriman, janganlah kamu jadikan bapa-bapa dan saudara-saudaramu menjadi wali(mu), jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka wali, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.
24. Katakanlah: "jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya." Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.
28. Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis[634], maka janganlah mereka mendekati Masjidilharam[635] sesudah tahun ini[636]. Dan jika kamu khawatir menjadi miskin[637], maka Allah nanti akan memberimu kekayaan kepadamu dari karuniaNya, jika Dia menghendaki. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.
29. Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian, dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan RasulNya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah[638] dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk.
30. Orang-orang Yahudi berkata: "Uzair itu putera Allah" dan orang-orang Nasrani berkata: "Al Masih itu putera Allah." Demikianlah itu ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah mereka , bagaimana mereka sampai berpaling?
31. Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah[639] dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.
34. Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebahagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih,
35. pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: "Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu."
38. Hai orang-orang yang beriman, apakah sebabnya bila dikatakan kepadamu: "Berangkatlah (untuk berperang) pada jalan Allah" kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu? Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) diakhirat hanyalah sedikit.
39. Jika kamu tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah menyiksa kamu dengan siksa yang pedih dan digantinya (kamu) dengan kaum yang lain, dan kamu tidak akan dapat memberi kemudharatan kepada-Nya sedikitpun. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
41. Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.
55. Maka janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya Allah menghendaki dengan (memberi) harta benda dan anak-anak itu untuk menyiksa mereka dalam kehidupan di dunia dan kelak akan melayang nyawa mereka, sedang mereka dalam keadaan kafir.
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang
At Taubah
20. orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.
23. Hai orang-orang beriman, janganlah kamu jadikan bapa-bapa dan saudara-saudaramu menjadi wali(mu), jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka wali, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.
24. Katakanlah: "jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya." Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.
28. Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis[634], maka janganlah mereka mendekati Masjidilharam[635] sesudah tahun ini[636]. Dan jika kamu khawatir menjadi miskin[637], maka Allah nanti akan memberimu kekayaan kepadamu dari karuniaNya, jika Dia menghendaki. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.
29. Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian, dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan RasulNya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah[638] dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk.
30. Orang-orang Yahudi berkata: "Uzair itu putera Allah" dan orang-orang Nasrani berkata: "Al Masih itu putera Allah." Demikianlah itu ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah mereka , bagaimana mereka sampai berpaling?
31. Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah[639] dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.
34. Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebahagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih,
35. pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: "Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu."
38. Hai orang-orang yang beriman, apakah sebabnya bila dikatakan kepadamu: "Berangkatlah (untuk berperang) pada jalan Allah" kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu? Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) diakhirat hanyalah sedikit.
39. Jika kamu tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah menyiksa kamu dengan siksa yang pedih dan digantinya (kamu) dengan kaum yang lain, dan kamu tidak akan dapat memberi kemudharatan kepada-Nya sedikitpun. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
41. Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.
55. Maka janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya Allah menghendaki dengan (memberi) harta benda dan anak-anak itu untuk menyiksa mereka dalam kehidupan di dunia dan kelak akan melayang nyawa mereka, sedang mereka dalam keadaan kafir.
| Category: | Books | | Genre: | History | | Author: | armend28 |
Plot 1 Sudah lama manusia mengenal diri ku, sejak manusia mulai mengenal penguasa dan Maha Pencipta. Tidak seperti teman ku yang lain, yang mulai dikenal ketika konsep agama dengan kekuasaan tunggal mulai diperkenalkan. Sudah beribu-ribu bahkan bertahun-tahun aku dikenal oleh manusia. Ada yang secara langsung memuja aku, dan menyembahku. Ada yang secara tidak langsung melalui media-media seperti patung atau berhala.
Aku sudah ada ketika Yang Maha Kuasa mencipta makhluk untuk mengisi alam semesta. Untuk sesaat hari-hari ku diisi dengan kesenangan dan kegembiraan, bermain bersama makhluk lain yang ada ditempatku tinggal dulu, yang biasa manusia sebut FIRDAUS. Aku memiliki teman, yang sama-sama tinggal di tempat tersebut, Malaikat bila aku boleh menyebutnya. Kita bersahabat, hingga suatu waktu, Yang Maha Kuasa menciptakan Manusia pertama, yang dikemudian hari kita semua kenal dengan nama ADAM. Adam, diciptakan tidak sesempurna aku dan malaikat. Dia hanya terbuat dari tanah, sesuatu yang lemah menurutku, tapi tidak menurut Yang Maha Kuasa. Karena Adam memiliki otak untuk berfikir, kecerdasan serta perasaan.
Semenjak Adam diciptakan, ada sesuatu yang aneh didalam bagian tubuh ku… sesuatu yang belum pernah aku alami sebelumnya, sesuatu yang berlebih, sesuatu yang menurutku akan membawaku kearah yang membingungkan dan gelap. Yah…gelap, aku tidak suka gelap, bahkan aku benci gelap. Perjalanan ku beberapa waktu yang lalu dengan malaikat menuju suatu tempat yang dinamakan Bumi, membuatku memperkeras ketidaksukaanku terhadap gelap. Oleh karena itu tempat kediamanku yang kuberi nama NERAKA penuh dengan cahaya yang dikeluarkan oleh api. Disetiap sudut, disetiap ruang, bahkan diruang untuk ku beristirahat pun cahaya yang dikeluarkan sangat banyak. Pernah suatu waktu, ketika malaikat datang berkunjung, dia sempat bertanya, kenapa aku menaruh begitu banyak api di dalam kediamanku, yang membuat ruang menjadi begitu panas dan terang sekali oleh cahaya yang dikeluarkan, aku hanya tersenyum waktu itu.
Malaikat memang sabahat ku yang sangat baik, ditempat ini malaikat tinggal disebuah tempat yang diberi nama SURGA, Tempatnya cerah, harum dan nyaman.. tapi tidak hangat seperti tempat tinggal ku. Surga juga terang, tapi bukan dengan cahaya yang dikeluarkan dari api. Akan tetapi dari benda-benda bulat yang mengeluarkan cahaya. Inti matahari yang tidak terpakai kalau tidak salah. Yang dibuat sedemikian rupa oleh malaikat menjadi hiasan-hiasan yang indah, menghiasi tempat tinggalnya.
Waktu berjalan, hari-hari ku berganti seperti biasa, lebih banyak aku habiskan dengan bermain harpa di taman Firdaus. Hingga suatu ketika Yang Maha Kuasa memanggil kami para ciptaannya untuk datang menghadap. “Ada sesuatu yang penting” dalam hati aku berbisik. Seingatku terakhir kali kami datang menghadap, adalah ketika Yang Maha Kuasa menciptakan Adam, dan aku belum pernah melihat Adam lagi semenjak itu. “Mungkin ada makhluk baru lagi yang diciptakan” pikirku.
Sesampainya aku ditempat Nya, aku selalu merasa takjub, meski aku selalu datang ketempat ini pada waktu-waktu tertentu. Tempat sang pencipta sangat indah tak terlukiskan. Jauh lebih indah dari semua kata yang dapat aku ucapkan. Disana sudah berkumpul semua makhluk ciptaan Sang Pencipta, Dia Yang Maha Kuasa. Pandanganku mencari, dimana gerangan malaikat berada. Senang rasanya melihatnya kembali, mengingat dengan perjalanan-perjalanannya selama ini, jarang sekali aku bertemu dan berkunjung.
Ahh..itu dia, dia berada diposisi paling depan dalam barisan pertemuan ini. Perlahan aku menuju tempatnya berada. “Salam hai malaikat, semoga rahmat selalu menyertai mu..!” “Sudah lama sekali kita tidak bertemu..” sapaku kepadanya dengan suaraku yang keras dan lantang… Yaahhh…, suaraku memang lantang. Apakah aku lupa bercerita, bahwa aku adalah panglima pasukan luar, sehingga wibawa dan karisma yang aku miliki sangatlah tinggi.
Dengan senyumnya yang menawan malaikat menjawab, “Salam kembali untuk mu wahai Iblis, semoga rahmat dan keagungan dilimpahkan pada mu”
Aku senang mendengar jawaban dari malaikat tersebut, kata-katanya sangat menyejukan. Apakah aku belum memberitahu, bahwa malaikat merupakan penghubung Yang Maha Kuasa terhadap semua yang diciptakannya?. Tugasnya memantau serta memeriksa semua yang ada dan terjadi di jagad raya ini.
Setiap makhluk yang ada ditempat ini saling berbisik dan berusaha mencari tahu, apa kira-kira yang akan terjadi. Suara-suara itu menjadi dengungan dan seperti gesekan-gesekan, karena setiap makhluk saling menjawab, saling membalas dan saling bertanya satu sama lain. Aku hanya diam tanpa suara, memandang kearah altar-altar yang berada didepan, tepat dimana semua makhluk menghadap. Tiba-tiba terdengar suara lengking yang keras yang kemudian diikuti dengan suara senandung yang lembut. Tanda bahwa Yang Maha Kuasa akan segera hadir.
Keharuman yang berhembus dan lapisan berjuta cahaya, mengiringi kedatangan Nya. Berada pada puncak keagungan, dan kuasa. Keinginannya adalah perintah, dan perintahnya adalah hukum yang mutlak bagi setiap makhluknya. “WAHAI MAKHLUK CIPTAAN KU YANG TERKASIH DAN LAGI KUSAYANG, BEBERAPA WAKTU YANG LALU AKU MENCIPTAKAN ADAM, DAN SEPERTI YANG KALIAN SEMUA KETAHUI, ADAM KUCIPTAKAN SANGAT SEMPURNA, DARI SEMUA CIPTAAN-CIPTAAN KU SEBELUMNYA. ADAM SEMPURNA KARENA ADAM TIDAK SEMPURNA, ADAM SEMPURNA KARENA ADAM BERBEDA. DAN UNTUK ITU AKU PERINTAHKAN SEMUA MAKHLUK UNTUK SUJUD DIHADAPANNYA.”
Suara Yang Maha Kuasa yang lembut tapi sangat berwibawa terdengar begitu lantang, tetapi perintah Nya yang disampaikan diakhir kalimatnya membuatku merasa sedikit aneh. Aku memandang sekeliling semua makhluk, termasuk Malaikat yang sangat kuat pun sujud menghadap Adam. Aku masih dalam posisiku sebelumnya. Dan disinilah semuanya bermula.
Seperti yang ditulis di semua kitab-kitab dan buku-buku agama, aku diusir dari Firdaus dan aku diberi kebebasan untuk menggoda anak cucu Adam untuk menemaniku di Neraka …karena ketidakpatuhanku untuk sujud kepada Adam.
Ketidakpatuhan…sujud kepada makhluk yang lemah, tidak sempurna, cengeng dan manja. Sesuatu yang sangat tidak masuk akal, bila boleh aku mempergunakan kalimat manusia. Untuk apa manusia menemaniku, ditempat tinggal ku? Sementara aku tidak pernah menginginkan ada manusia untuk menemaniku. Dan karena manusia juga aku harus meninggalkan Neraka, tempat tinggal ku. Dan menemani mereka di bumi yang dingin dan gelap ini.
Bagian 1 Sudah berjuta-juta waktu, bila aku menghitung dari perputaran bumi ini terhadap tata surya nya. Manusia mempergunakan istilah “tahun” untuk pergantian masa tersebut. Namun untuk ku, semua itu seperti seperedaran bumi terhadap matahari. Semenjak Manusia pertama berada dibumi ini, aku pun berada dibumi ini. Menemani mereka, memperhatikan mereka dan menggoda mereka. Kalian mungkin akan bertanya, dimana kiranya aku tinggal dan berada dibumi ini. Sebuah pertanyaan yang selalu aku tanya pada diriku sendiri. Karena aku tidak memiliki tempat untuk tinggal di planet yang dingin ini. Tempat tinggal ku hanya pikiran ku, dan rumah ku hanya ingatan ku. Dan sesekali dalam satu masa aku diperbolehkan untuk datang kembali kerumah ku, ketika banyak dari manusia sedang menjalankan ibadah selama sebulan penuh. Rasa rinduku pada tepat tinggal ku dapat aku tumpahkan pada masa itu. Namun sebulan adalah waktu yang sangat singkat, dan aku banyak menghabiskan waktu dengan bermain-main dengan ingatanku. Dari sekian banyak ingatan yang aku miliki, ada beberapa yang ingin aku ceritakan kepada mu. Tapi jangan khawatir, aku tidak perlu menceritakan hal-hal bahagia yang membosankan disini, tapi aku ingin menceritakan sebuah cerita lain yang menurutku sangat bodoh untuk seorang manusia melakukannya.
Lima belas tahun yang lalu seorang manusia hadir di bumi ini, orangtua nya memberikan panggilan kepadanya Riky. Ibu Riky seorang keturunan Tionghoa, dan Ayahnya keturunan Jawa. Untuk seorang remaja Riky diberikan sejumlah kelebihan yang tidak dimiliki oleh manusia seumurnya. Dengan fisik yang tinggi tegap, wajah yang menawan dan tutur katanya yang sopan membuat Riky disenangi dilingkungan sekolahnya. Bukan hanya gadis-gadis yang suka padanya, mereka yang berjenis kelamin sama dengan Riky yang memiliki kelainan hormon pun juga memujanya.
Dalam suatu lingkungan, Banyak fantasi yang membayangkan sosok seorang Riky. Dan aku dapat menyelam dalam setiap pikiran manusia-manusia tersebut, ketika penokohan terhadapnya menjadi sebuah subjek yang premier, dan penggambaran-penggambaran yang sangat detail untuk sebuah lamunan-lamunan yang berakar dari keinginan yang terpendam. Aku hanya tertawa, keras-keras..manusia, memuja manusia lain yang sama lemah dan cengengnya, untuk mengisi sebagian dari pikiran-pikirannya. Hahaha, dan aku hanya memperbanyak pikiran-pikiran tersebut,sehingga semakin tidak berguna. Dan kalau boleh aku sedikit bercerita tentang Riky, sampai sebelum kejadian itu terjadi, sehingga kalian mengerti bahwa manusia merupakan makhluk yang tidak berguna.
Seorang Manusia Tercipta Dentang keras bunyi dari sebuah alat yang oleh manusia disebut radio, serta rentetan suara kendaraan yang dipergunakan oleh manusia mengisi suasana masa malam itu. Ketika terdengar suara tangis, tanda seorang manusia lagi hadir di bumi pada malam itu. Raut wajah sang ayah diliputi suasana gembira dan bahagia. Begitu juga dengan sang ibu, yang terbayang ditengah-tengah letihnya. Anak manusia tersebut diberi nama Riky, singkat saja.
Masa-masa Riky dilalui dengan waktu yang biasa dan seperti kebanyakan manusia lainnya. Hanya bedanya, Riky merupakan manusia yang diberikan banyak kelebihan dan kesempurnaan menurut ukuran manusia disekitarnya. Seperti seorang remaja berumur 15 tahun, hari-hari Riky banyak diisi dengan kegiatan yang mereka sebut sekolah, les, kegiatan ekstra diluar sekolah dan lainnya. Dan seperti manusia yang cukup taat dengan perintah agama yang dianut, yang diturunkan oleh orang tuanya, Riky juga selalu menjalankan ibadahnya. Sesekali manusia ini mengikuti bisik-bisik kecil ku. Akan tetapi untuk hal-hal lain yang bersifat “lebih jauh” hati nuraninya masih dapat menahan dan menolak ajakan-ajakan ku.
Riky adalah manusia. Alarm pada handphone yang tergeletak disudut mejanya berbunyi dengan kencang, menandakan tolak ukur waktu yang tepat untuk memulai suatu hari. Dipembaringan yang nyaman sang pemilik masih terlelap dan terlanjur nyenyak dalam alam mimpinya. Perlahan terseret oleh suara yang cukup keras dan mengganggu, dan kemudian perlahan tersadar. Dengan sedikit terhuyung berjalan keluar, menuju kamar mandinya.
Air dengan kesegaran, mengalir pada sela-sela wajahnya. Menutup pori-pori, mengalir, kemudian menjatuhkannya kelantai. Diraihnya handuk yang menggantung dibalik pintu, kemudian mengusapkannya kewajah. Lalu kemudian kembali menuju kamarnya.
Diraihnya handphone yang tergeletak dimeja. “Halo sayang, sudah bangun?” “Sudah, aku memikirkan mu tadi. Hmm dan kamu telp… mungkin ini akan menjadi sebuah kebiasaan nantinya hahaha.” Suara seorang wanita dengan renyah menjawab. “Hehehe…” dengan paru Riky berusah tertawa. “Oke, nanti siang aku ketempat mu, istirahat yang banyak yah.” “Hmm ok… love you!” “You too honey!” Riky kemudian menutup teleponnya.
Riky berjalan mengelilingi kamarnya, dan berhenti didepan cermin yang menghadap lemari bajunya. Pantulan bayangannya nampak dengan jelas begitu juga dengan seisi prabot yang ada didalam ruang kamarnya yang ditata dengan begitu apik. Riky masih seperti dulu, tetap tampan dan atletis, walau garis usia tidak dapat dihilangkan dari wajahnya yang kokoh. Awal tiga puluh tahun, dan seperti apa yang sering diungkapkan oleh teman-teman wanitanya dan rekan kerjanya di kantor “pesona yang tidak dapat dilupakan” -rambut hitam tebal, dengan dada bidang dengan tinggi 176cm, mata yang kecoklatan, alis yang tegas, dan struktur wajah yang kokoh namun lembut serta senyum yang menawan, membuat Riky banyak dikagumi oleh banyak wanita yang dikenalnya maupun yang melihatnya, hanya ketika Riky melintas dilorong bangunan perkantoran tempatnya bekerja.
Teman-temannya selalu menganggapnya, sebagai pribadi yang flexibel, akan tetapi jiwanya tertahan pada sebuah jaman. Dengan semua kelebihan yang dimiliki, Riky masih dapat tetap setia pada satu orang gadis. Sesuatu yang jarang dimiliki oleh banyak pria pada saat ini.
Riky melihat sesaat kearah cermin, kemudian melangkah keluar menuju halaman. Beberapa saat kemudian Nissan Xtrail yang dikemudikan Riky melaju menuju jalan utama dan berbaur dengan kepadatan jalan menuju pusat kota.
--------
Oke sampai disini, aku lagi yang mengambil alur cerita. Riky memang anak manusia yang bla bla bla…ya ya ya, tapi bukan itu yang ingin aku ceritakan. Bukan sebuah cerita yang menyimpang menjadi sebuah cerita murahan. Ini tentang bagaimana seorang manusia yang sangat bodoh, dan melakukan sebuah kebodohan.
Ingatkah kau, ketika Riky… yah, aku maksud Riky yang sebelumnya kau ceritakan melakukan sebuah “kebaikan” dalam tanda kutip, dan kemudian apa yang dia dapat? Sebuah kemalangan… yah sebuah kemalangan. Waktu itu Riky berumur 15 tahun, seorang diri sedang menuju rumahnya. Disebuah sudut jalan seorang gadis yang mungkin seumurannya sedang rampok oleh beberapa anak muda. Iya…seperti yang kalian tebak, dengan gagah berani Riky mencoba menolong. Bermodalkan sabuk biru jiu jitsu, Riky menghadang beberapa anak muda tersebut. Tapi yang kalian tidak tahu, kejadian itu membuat Riky satu bulan lebih berada dirumah sakit akibat beberapa luka jaitan dan memar-memar dihampir bagian tubuhnya. Hahahaha…suatu yang menggelikan buatku pada saat itu.
Oke…mungkin buatmu itu menggelikan, tapi coba ingat…sang gadis yang ditolong oleh Riky semenjak kejadian itu, selalu datang menjenguknya dirumah sakit. Menunggunya sepulang sekolah, dan membacakan cerita, diminggu-minggu awal Riky tak sadarkan diri. Ya…ya…aku juga melihatnya. Tapi bisakah kita kembali memperhatikan Riky? Dan bukankah itu yang kita sepakati dari awal, untuk memperhatikanya? Baik, tapi bagaimana kalau kita melewatkan bagian-bagian yang menjemukan, dan langsung saja menuju kebagian-bagian yang lebih menarik?
--------
Saat itu senja, ketika Riky menginjakan kakinya dihalaman parkir rumah sakit United Charity. Langkahnya sedikit tergesah ketika memasuki halaman rumah sakit. Dilewatinya bagian informasi kemudian berbelok menuju area perawatan, Riky kemudian mengambil lift yang berada dilobby area perawatan menuju lantai tiga.
Perlahan pintu ruangan itu terbuka, dilihatnya seorang wanita sedang berbaring tenang dikasur yang berada di tengah ruang vip, ruang perawatan rumah sakit. “Hai…kamu masih tidur say?” suara Riky membangunkan dengan sedikit parau. “Hei…tidak, aku hanya sedikit letih.” Jawab sang wanita. Yah, wanita itu Lisa. Gadis yang dulu diselamatkan oleh Riky. Dan sekarang dia…
Tunggu dulu!, kau bilang ini bagian paling menarik? Tidak, ini justru bagian paling tidak menarik. Dan aku tidak sedang membaca sebuah cerita. Sedikit lebih maju lagi, dan aku mau bagian yang paling menyedihkan!.
Operasi itu berjalan sempurna, dua belas jam yang panjang. Dipimpin langsung oleh Dr. Howard Esse, kepala bagian bedah jantung, dokter terbaik dibidang bedah jantung yang ada dikota ini.
Kondisi Lisa berangsur membaik, dalam dua bulan dia akan jauh lebih baik. Luka jaitannya akan sembuh dengan sempurna. Hanya satu yang tidak akan pernah sembuh dari lukanya, bahwa dia tidak akan pernah melihat Riky lagi. Perjalanan panjang, yang menyakinkan dirinya untuk melakukan operasi ini membuat dirinya sedikit terguncang. Kebimbangan hatinya terlukis dalam suapan-suapan sup hangat yang masuk kedalam tubuhnya ketika suster memberinya makan. Kunjungan-kunjungan yang tiada henti dari teman-teman dan kerabatnya, tidak juga menenangkan hatinya. Ingatanya hanya tertuju pada Riky. Dia tiada untuk membuatku ada, hal yang paling menyakitkan untuk diingat. Dan kadang, Lisa masih dapat mendengar dan merasakan ketika kesedihan menyelimuti hatinya. Yah, Riky mengorbankan sesuatu yang paling berharga bagi dirinya, karena ia mencintai dirinya.
Hahaha, ini yang aku suka. Cerita sedih yang penuh dengan kemalangan. Bolehkah kita melewati bagian ini dan lanjut kebagaian berikutnya? Tidak bisa!…aku ingin semua bagian tergambarkan dengan sangat jelas, karena perhitungan akan dilihat dari semua sisi. Kita terlalu banyak melewati bagian-bagian yang aku anggap cukup penting. Mulai saat ini pemindahan alur cerita harus sepengetahuan aku juga. Oke-oke…tapi bisakah kita mulai, karena aku semakin bosan, seperti aku bosan memperhatikan manusia-manusia ini.
-------
Riky terbangun dari pingsannya, ketika dirasakan seluruh badannya terasa remuk. Hal pertama yang diingatnya adalah gadis itu, dia tersentak dari tidurnya, berusah untuk bangkit ketika dirasakan nyeri yang begitu hebat menyerang dirinya. Dilihatnya, tubuh yang dipenuhi perban dan beberapa luka yang ditimbulkan olehnya. Perlahan ingatannya mulai menjadi jelas, dingatnya lorong jalan itu. Suara teriakan meminta tolong, yang kemudian disusul dengan suara-suara teriakan anak-anak muda brandalan tersebut mengeroyok dirinya. Dan yang terakhir sebelum dirinya pingsan, adalah tatapan khawatir seorang gadis manis yang memamdang dirinya dan dilihatnya para pengeroyoknya lari menjauh dari mereka sambil tertawa-tawa...
masih bersambung...
| Category: | Books | | Genre: | Literature & Fiction | | Author: | Armend28 |
Depan Aquarius Blok M, Jam 13.30 "Gak nyangkakan lo…?". Baskoro berdiri disisi jalan sambil sesekali matannya melirik kanan kiri, sapa tau ada cewe cakep yang lewat. Kemudian melihat ke Armend, sambil meminta tanggapan. "Iye…tau neeh si Altaf, lama banget…!". Merasa sedikit kesal karna molornya waktu yang menjadi kebiasaan lamanya kumat lagi sekarang. Altaf dan Armend teman satu angkatan di ITB dulu, Cuma beda jurusan. Altaf di Teknik Penerbangan, cuma sekarang kerja di salah satu agency periklanan ternama di Jakarta, sedang Armend di jurusan Desain Interior, Baskoro teman satu SMA dengan Armend kuliah di Kanada, kemudian ambil program magister untuk jurusan Arsitektur disana, sama dengan Armend. Mereka sempat tiga tahun tinggal satu flat bareng…untuk hemat katanya…pernah juga nebeng di rumah pegawai kedutaan Indonesia waktu lagi gak ada duit…hikhikhik, dasar gak tau malu…cuma mereka memang tergolong dekat, soalnya pergawai kedutaan itu bapaknya Ferry, teman Baskoro dan Armend waktu di SMA dulu… "Nahh…tuh orangnya dateng….eh coy…! Lama ajaaa…!" sambil menendang-nendang batu kecil didekatnya. "Iye, sorriii… tadi gw nganter nyokap kecil dulu…, eh lo kok gak bawa mobil ?" "Hehehe…ada kok, Cuma gw tinggal di bengkel…, jalan aja napee… evil kan deket…!" "Wuaaahhh…males banget, keringetan, panas, dan sejuta alasan lainnya deh…" "Ah, elo…, ya udah…naik taksi aja" "Wuaaahhh….mahal, nanti gw gak bisa beli jaket…mending naik bajaj aja deh.." "Yoo ah…kelamaan, gw dah males diri disini…" Tiga mahluk jayus itu akhirnya jalan juga…"jalan ?" gak naik bajaj ? ah tau deh… mereka lupa kali kalo tadi mutusin naik bajaj, biasa agak2 lemot….hikhikhik :p
Pondok Indah, Jam : 13.00 "Maaaah, Aldis mau beli yang itu… lucu…." Sambil memilih-milih pilihannya, dan menimbang-nimbang kira-kira bener gak pilihannya itu. Sedikit malas dengan ekor matanya mama melihat pilihan Aldis. "Ah, jangan ah… nora…yang ini aja !, kan bagus bunga-bunga…." "Ah mama… pilihannya taun dulu banget…!, kan lagi gak up date maah…yang ini aja yah..?." "Boleh aja, tapi setengahnya kamu yang bayar…" sambil agak sedikit bt soalnya pilihannya dibilang taun dulu dan gak up date…. "Yahhh, nanti Aldis gak punya uang jajan lagi dong….ehhmm gimana kalo mama bayar semua…trus Aldis cuci piring sehari penuh…gimana ? tawaran menarik kan….?" "Itu bukan tawaran menarik, kan emang tugas kamu cuci piring besok…, ya udah…bawa deh…" "Asssiiiikk, mama baik deh…!". Membawa barangnya kemudian berlari kecil menuju kassa.
"ehm, banyak juga yang beli…eh, itukan Nanda. Panggil gak yah? Kitakan masih musuhan, tapiii…eh sapa tuh yang sama Nanda, lucu juga…jangan-jangan pacarnya…hikhikhik Nanda punya pacar baru…loh, si Mika gimana dong…wah ini gak bener…besok gw musti tanyain di sekolah."
Bintaro, Rumah Nanda : Jam 11.45 "Taf , anter gw yuk…gw males pergi sendirian." Sambil ikut duduk di meja makan. Ngambil pir yang ada di piring, kemudian mengunyahnya. "Kemanaaaa….?" Sambil nerusin ngupilnya yang tanggung pake kelingking…dengan kuku yang agak-agak panjang…katanya sih sengaja dipanjangin biar gampang ngupilnya…dengan masih gak konsen ngeliat adiknya itu dengan tampang yang sumpahhh bloon abis…hehehe. "Gw ada janji sama anak-anak jam satu nanti, kalo gw musti nganterin lo belanja males…kadang lo suka gak nyadar kalo lo bawa orang." Sambil ngelanjutin ngupilnya….konsen…dan agak sedikit dalam….(nih novel jorok banget seeh…) "Gak kok, gw Cuma mau cari baju buat ke ulang taonnye Mika, lo jorok banget sih…tuh upil lo mau peper dimana tuh…? Di kolong meja yah?" dengan tampang jijik ngeliatin "aktifitas" kakak satu-satunya itu. "ehhmmm, dipeper ke lo…hahahahahaha" sambil berusaha menjulurkan tangannya ke Nanda yang berada tepat didepannya. "Ahhhhh…" berteriak menghindar yang kemudian jatuh dari kursi. Mama Nanda berlari tergopoh-gopoh dari dapur karena teriakan Nanda. Melihat Nanda jatuh dengan yang kemudian bangun dengan mengusap-usap kepalanya yang sedikit terbentur belakang kursi. "ADA APA SIH? KOK RIBUT-RIBUT?" sambil bertanya dengan kaget karena melihat kedua anaknya bercandanya agak kelewatan. "Altaf nih ma, ngupil trus upilnya mau di kasih ke Nanda.." "Altaf, kamu kok iseng sih..! udah Altaf, Nanda jangan ribut-ribut, mama lagi siap-siap. Masakannya mau di bawa Maya ke rumah bu Hadwi, selametanya sejam lagi…" Mama dibantu Maya dan bi Inah bikin usaha masak pesenan dirumah, dulu sih cuma iseng, tapi semenjak ketemu ibu Hadwi pesenan mama jadi banyak, soalnya bu Hadwi temennya banyak banget, suka cerita kemana-mana kalo masakan mama itu enak…padahal dia juga bisa masak loh…mungkin gak sempet aja kali…maklum ibu pejabat. "Sori deh Da…" "Enak aja sori, balesannya lo musti anter gw." Sambil pasang muka kesempatan. Nih kakak adik emang agak aneh. Pondok Indah Café Olala : Jam 15.30 Empat orang jayus itu nongkrong dengan sangat santainya...jam kerja lagi...dasar...pengangguran...hehehe, mau tau mereka ngomongin apa? Kalo lo nebak soal cewe...lo bener,ada sedikit masalah mereka memang soal cewe...umur dah lebih dari 25...pacar gak punya, nyokap dah nanya-nanya terus...pusing... "Eh Do, boleh pake stunt men gak...gw mau bayarin deh...hahaha...katanya si Nina bisa di ajak jalan besok...bw basi banget neh minggu ini..." kata Eko sambil minta tanggapan ke Edo. "Wah...gak mau, besok jatah gw jalan sama Nina...bukannya lo mau jalan sama lo Men?..lagian gw dah lama basi dari pada loh..." "Rencananya sih, cuma si Armend mau jalan sama Nunik...kencan katanya..." "Hehehe...gak juga...cuma mau nganter beli baju aja...sekalian cari bahan buat novel gw yang baru..." sambil minum hot coklat nya... "Oh iya, lo jadi besok k Bandung Mat? Sampe kapan? Rencana gw mau kesana senen besok..." "Jadi, bareng temen gw...naek mobil...lo kenapa gak ikut gw aja?" "Lah gw kan jalan bareng Nunik..." Triitt... triitt... triitt, telpon Armend bunyi. "Hallo Taff...gak, kita lagi nongkrong di PIM...Olala...oke...cepet loo..hahaha kalo gak kita tinggal.." "Siapa Mend?" tanya Eko sambil ngambil chocolate pastry punya Mamat yang sudah tinggal setengah. "Si Altaf, mau kesini katanya..." "Lagi dimana dia Mend?" sambil menghisap Esse light nya,kemudian menyemburkannya. "Huk..huk...gila lo Do, jangan ke muka gw dong lo buang asep loh.." kata Armend sambil mencoba mencari udara segar disela-sela asap rokok yang disemburkan Edo. "Eh sori Mend...." sambil mengipas-ngipas udara didepannya,berharap asapnya gak terlalu mengganggu.
-----------------
Perlahan pintu kamar di buka, seorang mahluk manis dengan handuk yang masih agak basah melilit malu-malu dikepalanya.
"Lo gak jadi pergi? Katanya mau jalan...tadi Aldis telfon katanya lo mau telp dia, dah nungguin dari tadi"
"...ehhhmm, gw masih ngantuk bilang dia kalo nanti telp lagi...jam 2an nanti gw kesana..."
"Lo trus mau ngapain...? Tidur lagi?..."
"Iyeee...sana ahh...gw ngantuk." Sambil ngambil bantal yang ada di sampingnya trus berguling kearah sudut.
"Wuuhhh..." sambil ngelempar guling kecil yang dari tadi dipegangnya, sambil menuju keluar dari kamar kakaknya tersebut.
"treett...treett...treett" di kejauhan suara K700-nya berbunyi, dengan malas Nanda melangkah kesumber suara tersebut.
"Hallooow Diss, kakak gw masih tidur...jam 2an dia bakal ke tempat lo katanya..."
"Ahh..lo Nan, gw kan blom bilang apa-apa..emangnya abis ngapain seeh kakak lo..kok tumben bangunnya siang..?"
"Wahhh...tumben apanya...saban hari kali dia kayag gitu, cuma lo gak nanyain aja dulu-dulu."
"Ehmm, kalo gak salah sih dia semalem nongkrong sama temen-temen kosnya dulu di Bandung...sampe malem banget, gw gak tau kemana...paling ke Fatmawati. Eh bentar...ada telpon masuk, tunggu bentar yah...hallo Ta..."
"Eh Nan, jalan yuk...gw mau ke distro...cari kado buat sepupu gw...sekalian lo anterin gw gitu...hikhikhik.."
"Iye gampang...tapi lo jemput gw ke rumah yah...lagi males gw keluarnya...eh gw lagi ngomong sama Aldis, nanti sambung lagi aja yah..."
"...ehhhhh Nan...ajak aja sekalian si Aldis...biar patungan bensinnya agak lebih ringan hehehe..."
"Wah...gak tau nih, dia mau atau enggak, dia ada janji mau jalan sama kakak gw..."
"Waaaahhhh....Aldis jalan sama kakak loo...? Kok lo gak bilang-bilang sih...kan gw juga sempet ngeceng kakak lo...hehehe"
"Ahh tau deh...nanti gw telp lo lagi deh gak enak gw sama si Aldis nunggu lama-lama." Bipp.."Sori Dis.."
"Ehh lama banget...siapa sihh? Si Mika yahhh..."
"Bukan...si Ita, ngajakin jalan...lo mau ikut gak kata dia?"
"Ohhh...gak tau nih, kayagnya gak deh..gw kan dah janji sama kakak lo...ehh kalo gitu dah dulu yah, gw mau mandi dulu nih."
"Oke deh girl...jangan mikir yang aneh-aneh yah pas lagi mandi...hehehe"
"Iyeee emang mau mikir apa...?"
"Kaliiii...tikus lewat...kecoa, lintah...atau apa keek...dah ahh..muachhh...!" bipp. Melempar handphone nya kekasur kemudian berlari kecil menuju kamar mandi juga. --------------------
Nanda termenung di sudut pintu busway yang membawanya ke arah stasiun kota, pikirannya tidak dapat lepas dari Mika. Mika yang beberapa hari ini membuatnya bertanya sangat dalam, jauh kedalam hatinya..."bagaimana hubungan kita selanjutnya pas kita lulus nanti, kamu ke Bandung dan aku mungkin ikut dengan mama ku ke Madrid" ucap Mika ketika mereka bertemu di warung pak Nas di kantin sekolah mereka kemarin siang. Ahhh...andai hal ini tidak perlu terucap...tidak perlu terpikirkan... Lamunannya terganggu ketika rekaman kaset dari tape busway memberitahukan penumpang bahwa mereka telah sampai di stasiun kota. Dengan pelan dia melangkah menuju pintu. "Mungkin lebih baik kalau ini di omongin lagi besok senin di sekolah..." "Mangga dua,ITC...!!!...Mangga dua...ayo neng...langsung...Kota-kota...Mangga dua....!!!" seorang calo angkot berteriak-teriak sambil membujuk calon penumpang untuk naik kedalam angkotnya... "Mhhh...Sutiyoso kaya banget nih gara-gara busway...gw yang jaman dulu malesss banget ke sini gara-gara macet, sekarang hampir tiap minggu kesini...hehehe..cuma buat beli bahan-bahan pernak-pernik gw, sama beli dvd bajakan juga kali...hikhikhik...ahhh Mika..." sambil matanya menerawang keatas, seolah mencari jawaban dalam pekatnya polusi Jakarta. Kemudian naik kedalam salah satu angkot tersebut, menunggu sebentar kemudian bergabung dalam padatnya arus jalan, menuju Mangga dua.
-------------------------
Berlari menuju ketenangan, ketika seseorang meraih tangannya kemudian menariknya dengan lembut menuju sudut ruang...hari ini tidak terlalu banyak orang di Score.
Mereka berbisik-bisik dengan cepat...tegas...selang berapa menit salah satu dari mereka berlari keluar diiringi isak tangis yang tertahan. "Gw gak bisa kaya gini terus" bisik Novie kesisi hatinya...
Seorang yang lain berusaha mengejar, tapi terhenti oleh ragu dihatinya..."Ahhh...mungkin ini yang terbaik buat kita berdua...Nov, jauh dibelahan dada...eh kok jadi agak-agak porno sih pilihan katanya...maksud gw jauh didalam hati yang paling dalam, gw masih sayang sama lo...mungkin cuma waktu yang bener-bener bikin kita ngerti maksud dari semua ini" Tatap Edo kearah perginya Novie...kemudian menghilang.
Edo kemudian keluar dengan sejuta perasaan yang masih menggantung di kantongnya...kemudian mencari sebuah nomor di S35 nya...diall...bippp...bippp...bippp....
"Hallooow.." sebuah suara agak cempreng menjawab di sana...
"Ko..jalan yuk....gw lagi pengen nongkrong nehh..."
"Ya udahhh...lo kesini aja, gw janjian sama Altaf di Gramed PIM."
"Lo lagi di mana?" tanya Edo sambil menuju tangga turun.
"Bentar lagi nyampe...dah di putaran, mau masuk PIM...lo sendiri dimana?"
"Di Citos, ya udah deh...gw kesana,tunggu bentar yah.." "Iyeeee....cepet tapi lo nya...!"
Menuju lobby, menimbang sebentar...kemudian memutuskan untuk naik ojek yang biasa mangkal gak jauh-jauh banget dari tempatnya berdiri.
---------------------
Setelah insiden di antrian tadi, nafsu makan ku sedikit berkurang...seperti biasa setelah melakukan perjalanan panjang yang cukup melelahkan aku memilih untuk sedikit santai sejenak di tempat ini. Dikejauhan sekelompok remaja abg dengan santai membicarakan berlalunya hari.
Dengan sedikit tergesa ku habiskan sisa makanan yang ada di piring...kemudian mengambil tas dan menuju pintu keluar. Jam keberangkatan ku masih tigapuluh menit lagi, kuhabiskan waktu dengan mencatat pada buku harian ku...
------------------------
Nanda sedang berada di tempat out put film didaerah kebayoran lama ketika K700 nya berbunyi.
"Nan, jam berapa lo balik lagi ke toko? Gw mau ke mangdu, bentar lagi."
"Yahhh, gw belum selesai filmnya..., bentar lagi atau kalo lo emang buru-buru tinggalin aja catatan laporannya dimeja,nanti gw ambil 'ndiri."
"Oke deh, gw simpen di lemari file yah, gw pergi dulu.."
"Yahhh, nih poster pensi bikin gw susah aja..." keluh Nanda dalam hati. Sebenernya gak perlu ngeluh sih, soalnya kemaren-kemaren dia bisa aja nolak, tapi karena dia butuh banget duit jadi di terima juga deh proyeknya. Iyah...Nanda biar masih SMA, tapi urusan grafis mengrafis jago banget...belajar sama kakaknya yang kuliah di desain ITB. Tapi sayang, kakaknya ilmunya gak dipake-pake, soalnya sekarang dia jualan mobil di salah satu show room di daerah Sudirman, hikhikhik...lama kaya nya kalo kerja jadi desainer grafis katanya...
Acong memberikan filmnya. "Mbak Nanda, ini filmnya."
Kaget, tersadar dari lamunannya. "Eh, iya...dah selesay? Berapa....?"
"Nih..." memberikan bon pembayaran. "Tiga puluh lima ribu..."
Nanda memberikan uangnya, menunggu sebentar, kemudian menerima pembayarannya. "Makasih yah Cong!"
"Yoiii...sama-sama.."
Kemudian berlari-lari kecil keluar, di pinggiran jalan dia melambaikan tangannya, menyetop metromini 74 menuju blok m.
-----------------------------
Pekerjaan yang sangat banyak serta deadline yang harus dipenuhi membuat kening Armend berkerut sejak selepas makan siang tadi, dan mungkin mengancamnya untuk lembur lagi seperti beberapa hari kebelakang, dalam minggu terakhir ini. Walah terancam gak bisa nongkrong lagi weekend ini...hehehe.
"Mungkin enak juga kalo gw telp Nuniek dulu bentar."
"Halloww say, gmana kerjaan di kantor?"
"Ehhh...gak terlalu banyak sehh...kenapa say? Kamu lembur lagi yah? Hihihi kaciannn...gak bisa jalan bareng lagi dong..."
"Iyah...proyek Pak Sudiro bikin aku kayag kawin sama gambar...masih banyak yang musti di kejar, mana kemaren drafter ku satu orang sakit lagi...gambar detail masih banyak yang belum di gambar, desain masih revisi terus...gak ngerti deh kapan beresnya."
"Wah, kalo gitu kenapa gak di bawa pulang aja...biar masih bisa jalan nanti malem?"
"Kayagnya malem ini aku bawa pulang sebagian, memangnya mau jalan kemana?"
"Risya ngajak ke Sabang, kamu mau ikut?"
"Di sate tempat biasa yah? Apa gak bikin bt kalo nanti pulang badan pada bau sama asep..."
"Iya sehh, tapi mending bau-nya asep, coba kalow asep...hehe, gimana kalow ketempat nasi goreng di depan QB...eh, kamu langsung kesana aja yah...kita tunggu disana...oke?"
"Ehmm, jam delapan-an yah...aku musti back up data yang aku harus bawa ke cd...tunggu bentar yah."
"Jangan lama-lama yah say..."
Lima belas menit kemudian Armend sudah berbaur dengan hangatnya jalan weekend Jakarta menuju Thamrin. SL 45-nya berbunyi ketika Armend akan memasuki pelataran parkir Sarinah.
"Halo Taf, ada apa?"
"Halo...eh Mend lo lagi di mana hih? Jalan bareng Eko Edo yuk!"
"Wah...gw di Sarinah, janjian sama Nuniek...mau makan di tempat biasa."
"Nasi goreng depan QB?"
"Ehmm...iyah, lo kenapa gak kesini aja dulu, Nuniek bareng temennya...cewe...kali aja lo nanti bisa ajak dia jalan, hehehe...."
"Wah boleh tuh, gw kesana deh...sekitar dua puluh menit yah..."
"Loh...si Eko gmana?"
"Ahhh...gampang, dari sana bisa gw telpon...paling kita nyusul nanti...buntut nya paling mereka ke Fatmawati..."
"Oke deh...jangan kelewat lama yah..."
Nuniek sedang memesan jus mangga ketika Armend masuk. Wah cakep juga temennya Nuniek...hoki juga nih si Altaf kalo bisa jadian sama dia.
"Halo say! Dah lama nunggu?"
"Oh, belum...eh say kamu mau pesen apa? Oh iya...kenalin temen ku..."
"Risya..."
"Armend...eh, lo kerja di kantor yang sama?"
"Iya...gw bagian akunting nya...lo sama kayag Nuniek juga yah?"
"Iya, ehemm...lagi bt nehh...banyak banget deadline nya minggu ini...jadi nggak sempet kemana-mana...oh iya, say aku minta jus alpukat dong...hmm kamu dah pesen makanan?"
Berbalik arah kemudian duduk di samping Armend.
"Udah, sekalian sama kamu juga...nasi goreng kambing kan?"
Sambil nyengir jelek banget. "Eh iyah...tau aja...si Risya udah mesen?"
"Nuniek merapihkan isi tasnya. "Udah, dia sih dari tadi." sambil meraih sendok garpu, kemudian melapnya dengan tissu.
"Say, Altaf mau dateng nimbrung..." Mendekatkan diri kearah Nuniek kemudian berbisik "Dia kan gak punya cewe, jadi pas kamu bilang kamu dateng sama temen kamu, aku ajak dia aja dateng...hehehe sapa tau aja..." Pembicaraan mereka terhenti ketika seseorang menepuk pundak Armend dan menyapa dengan suara cemprengnya.
"Halow coy!, dah lama?"
---------------------------
Baskoro sudah siap-siap memutar balik arah mobilnya, ketika sms masuk dan memecah sedikit konsentrasinya.. diraihnya P900 yang tergeletak di dikilometer dasboard terano nya, mengurungkan niatnya untuk berputar arah, membaca pesan yang masuk dengan tangan kirinya..kemudian sebuah senyum tipis nampak diwajahnya. Otaknya bekerja keras, peta selatan Jakarta langsung dibuka dalam memori, mencari jalan pintas tercepat menuju arah yang akan dilalui, kemudian disambung dengan pusat Jakarta, setelah merasa yakin dia memacu kendaraannya menuju Mampang.
---------------
Eko masih menatap yakin, kalo mobil yang di parkir tidak jauh dari tempatnya duduk adalah mobil seseorang yang pasti ingin ditemui oleh Baskoro, refleksnya mengatakan pasti..kemudian jari-jarinya bekerja, dan sebuah pesan singkat terkirim.
------------------
Hujan yang mengguyur rumah Nanda beberapa hari ini tidak menyurutkan niatnya untuk keluar bertemu Erin di toko nya. Meski sedikit ragu, akhirnya dia memberanikan diri untuk menelepon seseorang.
Bipp...bipp.. "Ra,Arra...lo ada rencana keluar gak? gw mau ketemuan sama mba Erin nih, cuma kakak gw bawa mobil...jadi...gak ada mobil deh di rumah." Arra, saudara sepupu Nanda, yang selalu dengan kurang sopannya diminta oleh Nanda untuk mengantarnya kemana-mana dalam kondisi yang kurang menguntungkan Nanda, begitu juga Arra...soalnya dia jadi suka kayag supir pribadinya Nanda gitu...hikhikhik...salah sendiri dia mau.. "Hehehe,boleh gak loe anter gw..?" dengan muka agak gak tau diri mintanya...
"Haaammm...apa Nan..? Lo mau traktir gw makan-makan...? Boleh-boleh...dimana? Kapan? Jam berapa? Gw jemput lo deh..."
"Iyeee...sapa yang mau makan-makan...gw cuma minta tolong loe buat anter gw ke barito...gw mau ketemu mba Erin...lo pasti baru bangun yah...ahhh...gila loe yehh...jam berapa nih non...dah jam setengah dua nih...dah siang...bangun dong...pleaseee, jemput gw yah...yah.."
"Yahhh...anter loe aja yah...gak ada makan-makan...? Masih ngantuk nih...kan ada Altaf, sama dia aja deh anternya."
"Ah, nih orang...kan tadi gw dah bilang...kakak gw lagi pegiii...cabuuttt...jalannn...jadi gak ada mobil dirumah...dan sekarang hujjjaaaannn, jadi gw takut nanti barangnya mba Erin basah....gitu loh...yah udah nanti gw traktir makan deh...gmana?"
"Nah gitu! Makan...setengah jam lagi gw jemput yah...gw mandi dulu...bye hon...cup..muahh!" "Haahh..?" sambil memandang telponnya...ajaib banget nih orang pikir Nanda ke sepupunya. Gak usah bingung, untuk urusan makan Arra emang nomor satu...urusan dugem juga...bisa seminggu tiga kali...kayag minum obat aja...keluh nya cuma satu...kenapa sih di club orang musti turun sambil ngerokok, musti nongkrong sambil ngerokok, musti minum yang bikin mabok...Arra ke club itung-itung working out, soalnya bosen kalo di gym melulu...dan dia gak perduli biar suka dibilang gak asik, gak gaul, dan gak-gak yang lainnya sehubungan dengan masalah rokok...prinsip dia kuat...cari uang susah, sayang kalo cuma di buang-buang untuk beli rokok, mending dia beli baju...hehehe.
Hmmm, paling cepet bisa setengah jam nih si Arra datengnya. Mending gw siapin surat jalan aja kali yah...tapi yah kok kayagnya rajin banget, ah mending gw nonton dvd aja deh di kamarnya Altaf...hihihi...mumpung yang punya kamar lagi keluyuran...timbang Nanda dalam hati.
Empat puluh lima menit kemudian pintu depan rumah Nanda diketuk oleh seseorang. Nah..tuh anak dateng juga.."Siapa..?!" "Paket..." Hah...gw pikir si Arra..dengan berlari kecil Nanda menuju pintu, kemudian membukanya perlahan. "Paket dari mana pak?" "Dari pak Susilo di Bandung. Tolong di tandatangani mbak." "Ok" melirik sebentar pada kolom si pengirim kemudian menerima alat tulis yang disodorkan oleh bapak yang mengantarkan, kemudian mencoretkan tandatangannya ke kolom penerimaan.
Gw pikir Arra... Tiittttt...tiiittttt "Woiii Nannn...buka gerbangnya dong" Dengan wajah sedikit bt soalnya lama banget bukanya pikirnya. "Yahh lo lama banget datengnya Ra.." "Yeee...gw kan mandi dulu, gak kayag lo...pasti belom mandi kan?" "Enakkk ajaaa..gw dah mandi dari jam delapan kali..lo aja yang molornya kelamaan. Eh Ra, lo bawa pesenan gw gak?" "Haaa..pesenan apaan? Lo kan gak pesen apa-apa." Sambil keluar, menutup pintu mobilnya kemudian jalan disisi Nanda menuju pintu samping.
"Eh Nan, btw..kenapa gak lo ajak Mika aja buat nganterin lo?"
"Ehhmm..itu juga yang mau gw curhatin ke lo Ra. Gw lagi ada masalah nih..agak gede masalahnya buat gw kali ini..eh ngomongnya didalem aja yuk..sekalian makan dulu, gw mau makan sebelum pergi."
"Haa...katanya lo mau ngajak makan diluar? Kan gw pengen makan junkfood..bukan makanan sehat ala nyokap lo..eh btw, bener gak sih kalo hokben gak halal?"
"Ihh, mana gw tauu..lo tanya langsung aja di counternya...en makan diluarnya setelah kita pergi, minimal pas balik dari ketemu mbak Erin."
---------------------
Sedikit termenung Risya memikirkan pertemuannya dengan Altaf beberapa hari yang lalu. Hati kecilnya sedikit bergejolak.. meski dia sadar ada sesuatu yang membuatnya tidak bisa..”Tidak bisa…? kenapa harus tidak bisa…meski jauh didalam hatiku, aku sangat ingin..tapi selalu ada penolakan-penolakan kecil yang membuat aku menjadi ragu.” “Ingin rasanya aku menuangkan semuanya dalam coretan, seperti aku kecil dulu..tapi permasalahanku tidak sesederhana itu saat ini…” “Ahhh…andai semua tidak perlu selalu bertabrakan dengan nilai norma..tentu perasaanku tidak harus segalau ini, sekarang..”
Memutuskan untuk beristirahat, Risya berjalan pelan menuju sisi tempat tidurnya. Duduk sebentar ditepi, sebelum akhirnya memutuskan untuk merebahkan badannya dan menyerap seluruh grafitasi tubuhnya kedalam hempasan lembut. Memejamkan mata…terbuka kembali…memejamkan mata…terbuka kembali…menarik nafas panjang, berusaha menarik semua udara baik, kedalam rongga-gongga tubuhnya…dan mengirimkannya ke sel-sel otaknya, berharap meringankan sedikit saja permasalahan yang sedang dia alami hari ini, kemudian menghembuskannya keras-keras…memejamkan mata…berfikir…sebelum akhirnya memutuskan untuk berputar dan merangkul guling yang ada disisinya, memaksa tubuh dan pikirannya untuk beristirahat.
--------------------
| |